Kecak
Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan
alternatif: Ketjak, Ketjack), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada
tahun 1930-an
dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak
(puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan
irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan,
menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun
demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang,
yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar[1],
melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian
menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Para penari yang duduk melingkar
tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang
mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan
tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.[rujukan?]
Lagu tari Kecak diambil dari
ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya
digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan
tokoh-tokoh Ramayana.[rujukan?]
Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama
dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan
tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan
tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Angklung
Angklung adalah alat musik
multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat
berbahasa Sunda
di Pulau Jawa
bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan
cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga
menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam
setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan
Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November
2010.
Asal-usul
Tidak ada petunjuk sejak kapan
angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam
kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern,
sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan
Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru
muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16).
Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup
masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai
makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang
Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap
sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian
dari ritual mengawali penanaman padi.
Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu
yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari
ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri
turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan
sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung
bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil
hingga besar.
Dikenal oleh masyarakat sunda
sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah
semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat
masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda
sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat
popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu
itu.[rujukan?]
Selanjutnya lagu-lagu persembahan
terhadap Dewi Sri
tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang
bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu
yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen
dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian
Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah
pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat
menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan
sebagainya.
Dalam perkembangannya, angklung
berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada
1908 tercatat sebuah misi
kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan
angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena
—tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras
pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung
kepada banyak orang dari berbagai komunitas.
[sunting] Jenis Angklung
[sunting] Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita
sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena
hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang.
Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang).
Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas
(dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang
dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih
bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya
hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga
bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya
semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim
menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang
disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung
setelah dipakai.
Dalam sajian hiburan, Angklung
biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung
di buruan (halaman luas di
pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu,
Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong
Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan,
Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler,
Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan,
dan Culadi Dengdang. Para
penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil
membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu
yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku
tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda
dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan
pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang
berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.
Nama-nama angklung di Kanekes
dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung
leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh
seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan
ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung
Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik,
hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo,
hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.
Di Kanekes yang berhak membuat
angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung,
yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang
bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya
di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang
terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran
membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.
[sunting] Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di
masyarakat Kasepuhan Pancer
Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar
di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini
dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di
sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun
sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren
Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot
(sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
Tradisi penghormatan padi pada
masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih
memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para
pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit
bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak
terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi
bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian
yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan,
yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara
kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah
2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini
mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking,
dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah
enam orang.
Lagu-lagu dogdog lojor di
antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal
dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.
Angklung Gubrag
Angklung gubrag terdapat di
kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan
digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi),
ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).
Dalam mitosnya angklung gubrag
mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.
Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian
yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama.
Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai
hiburan untuk kepentingan dakwah Islam.
Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum
Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai
seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah
ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan
Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak.
Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu
sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.
Angklung yang digunakan sebanyak
sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan
angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung,
serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda
yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang
digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai
Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam
pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian,
seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.
Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike,
Lilimbungan, Solaloh.
Buncis merupakan seni pertunjukan
yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung).
Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan
dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan.
Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai
kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat
dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi,
karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu
tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari
rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis,
dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual,
tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya
digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis berkaitan
dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst.
Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan
buncis.
Instrumen yang digunakan dalam
kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas,
2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1
talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah
dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan
lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya:
Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum.
Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan
penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk
menyanyi.
Dari beberapa jenis musik bambu
di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni
pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung),
Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis),
Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung
Ciusul (Banten),
Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut),
dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada
diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia
ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima
(salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si
Etjle (1908—1984) diubah nadanya
menjadi tangga nada
Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil
pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara
orkestra besar.
[sunting] Angklung Padaeng
Angklung padaeng adalah angklung
yang dikenalkan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Terobosan pada
angklung padaeng adalah digunakannya laras nada Diatonik
yang sesuai dengan sistem musik barat. Dengan demikian, angklung kini dapat
memainkan lagu-lagu internasional, dan juga dapat bermain dalam Ensembel
dengan alat musik internasional lainnya.
Sesuai dengan Teori_musik,
angklung padaeng secara khusus dibuat menjadi dua jenis besar yakni:
- Angklung
Melodi,
adalah angklung yang secara fisik terdiri atas dua tabung suara dengan
beda nada 1 oktaf. Pada satu unit angklung, umumnya ada:
- Angklung
melodi kecil, terdiri atas 31 angklung.
- Angklung
melodi besar, atau disebut juga bass-party, terdiri atas 11 angklung.
- Angklung
akompanimen, adalah angklung yang digunakan sebagai pengiring untuk
memainkan nada-nada Harmoni. Tabung suaranya ada 3 atau
4, sesuai dengan Akord
diatonis. Suatu unit angklung standar biasanya memiliki:
- Angklung
akompanimen mayor sekaligus akord dominan septim, terdiri atas 12 buah
angklung
- Angklung
akompanimen minor, terdiri atas 12 buah angklung
Pak Daeng menggunakan angklung
ciptaannya untuk melatih anak-anak pandu (pramuka jaman dulu). Tidak heran
kalau lagu-lagu yang dimainkan mereka saat itu umumnya lagu wajib. Beberapa
peninggalan aransemen asli Daeng Soetigna misalnya "Satu Nusa Satu
Bangsa", "Ibu Kita Kartini", atau "Wajib Belajar".
Sekitar tahun 1980-an, KPA SMA 3 Bandung berdiri dengan perintis muda seperti
Djoko, Budi Supardiman, dan Asep Suhada. Mereka mulai mengaranseman angklung
padaeng untuk musik-musik modern Indonesia seperti "September Ceria"
(Vina_Panduwinata), "Astaga" (Ruth_Sahanaya)
dan "Gemilang" (Krakatau_(grup_musik)), bahkan merambah ke
musik manca negara mulai dari "Yesterday" (Beatles),
"Another Day in Paradise" (Phil_Collins),
hingga "Bohemian Rhapsody" (Queen).
Angklung Sarinande
Angklung sarinande adalah istilah
untuk angklung padaeng yang hanya memakai nada bulat saja (tanpa nada kromatis)
dengan nada dasar C. Unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do
sampai Do Tinggi), sementara sarinade plus berisi 13 angklung (nada sol rendah
hingga mi tinggi).
Aruba
Aruba adalah nama grup musik
(band) yang pertama kali memperkenalkan angklung solo, dimana satu unit
angklung digantung pada suatu palang sehingga bisa dimainkan satu orang saja.
Sesuai dengan konvensi nada diatonis, maka ada dua jajaran gantungan angklung,
yang bawah berisi nada penuh, sedangkan yang atas berisi nada kromatis. Grup
Aruba ini berdiri dirintis oleh Yoes Roesadi tahun 1964, dan kemudian berubah
nama menjadi Arumba sekitar tahun 1969.[1]
Arumba
Arumba adalah istilah bagi
seperangkat alat musik (ensemble) yang minimal terdiri atas: [2]
- Satu
unit angklung melodi, digantung sehingga bisa dimainkan oleh satu orang
- Satu
unit bass lodong, juga dijejer agar bisa dimainkan satu orang
- Gambang
bambu melodi
- Gambang
bambu akompanimen
- Gendang
Konfigurasi awal ensemble
tersebut diperkenalkan oleh Mochamad Burhan sekitar tahun 1966, yang
menggunakannya bersama grup "Arumba Cirebon" [3].
Angklung Toel
Angklung toel diciptakan oleh
Kang Yayan Ujo sekitar tahun 2008. [4]
Pada alat ini, ada rangka setinggi pinggang dengan beberapa angklung dijejer
dengan posisi terbalik dan diberi karet. Untuk memainkannya, seorang pemain
cukup men-toel angklung tersebut, dan angklung akan bergetar beberapa saat
karena adanya karet.
Angklung Sri-Murni
Angklung ini merupakan gagasan
Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung. [5]
Sesuai namanya, satu angklung ini memakai dua atau lebih tabung suara yang
nadanya sama, sehingga akan menghasilkan nada murni (mono-tonal). Ini berbeda
dengan angklung padaeng yang multi-tonal. Dengan ide sederhana ini, robot
dengan mudah memainkan kombinasi beberapa angklung secara simultan untuk
menirukan efek angklung melodi maupun angklung akompanimen.
Teknik Permainan Angklung
Memainkan sebuah angklung sangat
mudah. Seseorang tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya
tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya
tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi. Dalam hal ini, ada tiga teknik
dasar menggoyang angklung:
- Kurulung (getar), merupakan teknik
paling umum dipakai, dimana tangan kanan memegang tabung dasar dan
menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.
- Centok (sentak), adalah teknik
dimana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan
kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).
- Tengkep, mirip seperti kurulung
namun salah satu tabug ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi,
teknik ini menyebabkan angklung mengeluarka nada murni (satu nada melodi
saja, tidak dua seperti biasanya). Sementara itu pada angklung akompanimen
mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab
bila tidak ditengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada).
Sementara itu untuk memainkan
satu unit angklung guna membawakan suatu lagu, akan diperlukan banyak pemusik
yang dipimpin oleh seorang konduktor. Pada setiap pemusik akan dibagikan satu
hingga empat angklung dengan nada berbeda-beda. Kemudian sang konduktor akan
menyiapkan partitur lagu, dengan tulisan untaian nada-nada yang harus
dimainkan. Konduktor akan memberi aba-aba, dan masing-masing pemusik harus
memainkan angklungnya dengan tepat sesuai nada dan lama ketukan yang diminta
konduktor. Dalam memainkan lagu ini para pemain juga harus memperhatikan teknik
sinambung, yaitu nada yang
sedang berbunyi hanya boleh dihentikan segera setelah nada berikutnya mulai
berbunyi.
Berlatih Angklung
Angklung akan terdengar merdu dan
megah jika dimainkan beramai-ramai dengan kompak. Untuk itu, diperlukan
persiapan dan latihan yang cukup panjang, dipimpin pelatih yang cukup punya
pemahaman musik umum maupun angklung. Tahap-tahap persiapannya adalah:
- Pilih
lagu dengan aransemennya. Lagu yang cocok dimainkan dengan angklung
umumnya yang berirama riang, dan jika bisa ada bagian yang rancak,
sehingga bisa diimprovisasi dengan teknik centok. Lagu ini kemudian perlu
diaransemen khusus untuk angklung, dengan memiliki beberapa suara. Untuk
latihan, aransemen ini kemudian ditulis di kertas yang besar (biasanya
dalam notasi not angka).
- Siapkan
unit angklung sesuai aransemen. Dari aransemen angklung, bisa diketahui
berapa angklung yang diperlukan berdasar rentang nada lagu dan
keseimbangan intonasinya.
- Kumpulkan
pemain dan distribusikan angklung kepada mereka. Jika ada pemain yang
memegang banyak angklung, harus diperhatikan agar si pemain tersebut tidak
akan pernah memainkan dua angklung pada saat bersamaan. Untuk itu biasanya
dipakai tabel tonjur.
- Pemanasan.
Sebelum berlatih, sebaiknya lemaskan dulu kaki dan tangan, lalu lakukan
gerakan-gerakan dasar untuk kurulung maupun centok bersama-sama.
- Mempelajari
lagu. Bersama-sama, pelajari dan telusuri alur lagu, mana bait-bait dan
chorus yang harus diulang. Perlahan-lahan mainkan lagu ini dibawah
pimpinan konduktor. Disarankan agar selama latihan awal semua nada
di-centok saja, jangan dikurulung dulu.
- Menghafal
not. Perlahan-lahan para pemain diminta menghafal not-not lagu dan bagian
permainannya.
- Meningkatkan
teknik. Ini tahap polesan akhir, dimana konduktor bisa mulai memimpin
dengan menekankan keserempakan permainan, dinamika, maupun penjiwaan.
- Koreografi.
Jika akan tampil dipentas, bisa mulai dipikirkan improvisasi agar para
pemain melakukan gerakan yang menarik, tidak berdiri kaku terus menerus.
Angklung Interaktif
Angklung interaktif adalah
kegiatan dimana seorang konduktor mengajak banyak orang, yang umumnya awam,
untuk bermain angklung beramai-ramai. Kegiatan ini bisa dilakukan di tempat
pariwisata atau acara ramah tamah. Pada para peserta akan dibagikan
angklung-angklung yang sudah diberi nomor sesuai nadanya. Lalu, sang konduktor
akan memimpin, biasanya dengan cara:
- Konduktor
membuka satu layar besar bertuliskan lagu dalam not angka, lalu mengajak
para peserta memainkan angklung yang tepat dengan menunjuk nada pada
layar.
- Konduktor
mengajarkan isyarat tangan untuk nada-nada tertentu pada penonton,
kemudian memimpin suatu lagu dengan memberikan isyarat yang tepat secara
berurutan untuk diikuti para peserta.
Modernisasi Angklung
Secara esensial, angklung adalah
alat musik bambu yang dimainkan dengan digetar. Hal tersebut tidak boleh
diubah. Meski demikian, berbagai upaya kreatif untuk memodernisasinya terus
berlangsung, seperti:
- Angklung
elektrik karya Agus Suhardiman [6]
- Angklung
otomatis, Tugas akhir Kadek Kertayasa di STIKOM Surabaya [7]
- Tra-digi,
angklung robot yang dikontrol oleh i-pod, ciptaan Hasim Ghozali. [8][9]
- Klungbot,
robot angklung yang mula-mula dikreasi oleh Krisna Diastama dan Karismanto
Rahmadika [10],
kemudian dilanjutkan oleh Eko Mursito Budi.